Breaking News
light_mode
Beranda » KALBAR » Krisis Air Bersih Melanda Dungun Perapakan, 263 KK Terdampak Kekeringan

Krisis Air Bersih Melanda Dungun Perapakan, 263 KK Terdampak Kekeringan

  • account_circle Ainu
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sambas mulai dirasakan warga. Di Dusun Asam Kanis, Desa Dungun Perapakan, Kecamatan Tebas, warga mengaku kesulitan mendapatkan air bersih setelah lebih dari dua bulan tidak turun hujan.

Kondisi tersebut membuat sumur warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga terpaksa membeli air yang didatangkan dari sungai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Saputra, warga Dusun Asam Kanis, mengatakan kekeringan membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih. Air digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari mencuci pakaian hingga mencuci piring.

“Sudah sekitar dua bulan lebih tidak hujan. Kami betul-betul kekeringan air. Untuk air bersih sudah tidak dapat lagi, sehingga harus membeli dan mendatangkan dari sungai,” ujar Saputra.

Menurut Saputra, air sebanyak sekitar 2.000 liter dibeli dengan harga sekitar Rp100 ribu. Kondisi tersebut cukup membebani warga jika kekeringan terus berlangsung.

Warga juga telah berupaya mencari sumber air dengan membuat sumur secara manual. Namun, sumur dengan kedalaman sekitar 30 meter belum menghasilkan air yang layak digunakan karena air berwarna kuning dan mengandung zat besi.

“Kalau hanya 30 meter, air yang didapat tidak jernih dan mengandung karat besi. Airnya kuning. Yang belum kami coba mungkin pengeboran sampai sekitar 100 meter menggunakan mesin,” katanya.

Saputra berharap pemerintah dapat membantu pembangunan sumur bor dengan kedalaman yang lebih memadai, khususnya untuk warga di RT 6, 7 dan 8 yang mengalami kesulitan air cukup parah.

“Kami sangat berharap pemerintah bisa membantu mendatangkan sumur bor, kalau bisa sampai 100 meter menggunakan mesin. Satu titik untuk satu RT pun sangat membantu karena kami di sini memang sangat kesulitan air,” ungkapnya.

Kondisi kekeringan ini juga menimbulkan kekhawatiran warga apabila terjadi kebakaran di sekitar permukiman. Minimnya sumber air membuat warga khawatir kesulitan melakukan penanganan jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

“Air sungai yang pasang juga tidak masuk ke sini. Untuk cuci baju dan cuci piring saja tidak ada, semuanya harus beli. Jangan sampai ada kebakaran, karena mencari air saja kami sudah sangat kesulitan,” terang Saputra.

Sementara itu, Kepala Dusun Asam Kanis, Sabri, mengatakan kekeringan di Desa Dungun Perapakan telah berlangsung sekitar dua bulan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih warga semakin sulit dipenuhi sekaligus menambah beban biaya hidup masyarakat.

“Saat ini memang kesulitan untuk keperluan sehari-hari, terutama air bersih. Akibat kekeringan ini, biaya hidup masyarakat juga menjadi bertambah,” ujar Sabri.

Sabri menyebut sekitar 263 kepala keluarga terdampak cukup parah, khususnya di RT 6, RT 7 dan RT 8 di Dusun Asam Kanis. Kondisi tersebut terjadi karena aliran air dari sungai di sekitar wilayah tersebut tidak sampai ke permukiman warga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air langsung ke sungai menggunakan jeriken. Air tersebut digunakan untuk mandi, mencuci, memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Warga saat ini datang langsung ke sungai dan membawa air menggunakan jeriken untuk keperluan MCK, memasak dan kebutuhan lainnya,” katanya.

Desa Dungun Perapakan sendiri memiliki sekitar 649 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 2.721 jiwa. Sabri berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih secara merata, terutama kepada warga yang terdampak paling parah.

Selain bantuan air bersih, pemerintah juga diharapkan membangun sumur bor permanen. Sebab, sumur yang dibuat secara manual dengan kedalaman sekitar 30 meter belum menghasilkan air yang layak untuk kebutuhan konsumsi.

“Air yang ditemukan dari sumur manual sangat keruh dan kemungkinan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Mudah-mudahan pemerintah dapat membantu pembuatan sumur bor permanen sehingga menghasilkan air bersih yang bisa digunakan untuk makan, minum, MCK dan kebutuhan lainnya,” ungkap Sabri.

  • Penulis: Ainu
expand_less