Breaking News
light_mode
Beranda » KALBAR » Abrasi Tak Kunjung Ditangani, Rumah Warga di Pantai Kahona Desa Sarang Burung Danau Kian Terancam

Abrasi Tak Kunjung Ditangani, Rumah Warga di Pantai Kahona Desa Sarang Burung Danau Kian Terancam

  • account_circle Ainu
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Abrasi pantai yang terus terjadi di kawasan Pantai Kahona, Desa Sarang Burung Danau, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, kian mengkhawatirkan. Gelombang laut yang menghantam pesisir tanpa penahan ombak telah menyebabkan kerusakan serius dan mengancam permukiman warga di wilayah tersebut.

Kepala Dusun Kuala Baru, Hermanto, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat belasan rumah warga yang terdampak abrasi. Dari jumlah tersebut, dua rumah mengalami kerusakan paling parah akibat tergerus ombak, sementara rumah lainnya terdampak pergeseran pasir dan abrasi di sekitar bangunan.

“Kalau yang terdampak itu ada belasan rumah. Yang paling parah ada dua rumah, sementara yang lain terkena imbas pasir dan abrasi di sekitar rumah,” jelas Hermanto.

Menurutnya, abrasi memang menjadi persoalan tahunan di Pantai Kahona. Namun, intensitasnya meningkat tajam sejak November 2025 hingga awal 2026. Kondisi tersebut diperparah oleh tidak adanya bangunan penahan ombak di sepanjang pesisir.

“Kalau tetap tidak ada penahan ombak, kemungkinan tahun depan bisa lebih parah lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sarang Burung Danau, Halimras, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap Pemerintah Kabupaten Sambas yang dinilainya belum memberikan perhatian serius terhadap bencana abrasi yang dialami warganya.

Ia menegaskan bahwa abrasi di Pantai Kahona bukanlah masalah baru, namun hingga kini belum ada penanganan konkret.

“Saya selaku Kepala Desa Sarang Burung Danau sangat marah karena sampai saat ini belum ada perhatian khusus dari Bupati Sambas. Abrasi ini sudah memakan banyak rumah warga,” ujar Halimras, Rabu (14/1/2026).

Halimras menjelaskan, puncak kerusakan akibat abrasi terjadi sejak akhir 2025 hingga awal 2026, ketika gelombang laut tinggi terus menghantam pesisir tanpa adanya pelindung alami maupun buatan. Kondisi ini membuat sejumlah warga hidup dalam kecemasan karena rumah mereka terancam hilang sewaktu-waktu.

Selain ketiadaan penahan ombak, Hermanto juga menyoroti berkurangnya vegetasi mangrove di sepanjang bibir pantai.

Meski masih terdapat mangrove di kawasan tersebut, keberadaannya dinilai tidak lagi efektif menahan abrasi karena sebagian besar telah berada jauh ke daratan. “Mangrove memang masih ada, tapi posisinya sudah ke dalam,” terangnya.

Ia berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi segera turun tangan untuk menangani abrasi Pantai Kahona. Upaya yang diharapkan meliputi pembangunan penahan ombak, rehabilitasi mangrove, hingga bantuan relokasi rumah warga yang terdampak dan terancam hilang.

“Tanpa langkah cepat dan nyata, keselamatan serta tempat tinggal warga pesisir akan semakin terancam,” pungkas Halimras.

  • Penulis: Ainu
expand_less