Inovasi Poktan Dare Nandung Semparuk Berbuah Manis, Produktivitas Padi Naik Drastis
- account_circle Ainu
- calendar_month 13 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Inovasi pertanian modern mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Sambas. Melalui penerapan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS), Kelompok Tani Dare Nandung, Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, berhasil meningkatkan produktivitas padi hingga 8,15 ton per hektare dalam panen perdana yang digelar Selasa (18/8/2026).
Hasil tersebut menjadi capaian penting di tengah upaya pemerintah meningkatkan produktivitas lahan eksisting sekaligus menekan biaya produksi. PM-AAS merupakan metode intensifikasi pertanian yang dicanangkan Kementerian Pertanian untuk mendorong penggunaan teknologi dan sistem budidaya yang lebih efisien.
Kelompok Tani Dare Nandung yang diketuai Sukiman mulai menerapkan metode tersebut sejak 18 Mei 2026 melalui sistem Tanam Benih Langsung (Tabela). Setelah melalui masa pertumbuhan sekitar tiga bulan, tanaman padi akhirnya memasuki masa panen dengan hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan produktivitas sebelumnya.
Panen perdana tersebut turut dihadiri Bupati Sambas H Satono, Wakil Bupati Sambas H Heroaldi, Ketua Komisi II DPRD Kalbar H Subhan Nur, Ketua DPRD Kabupaten Sambas H Abu Bakar, Ketua TP PKK Kabupaten Sambas Hj Yunisa, Forkopimcam Semparuk, jajaran Kementerian Pertanian RI, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Barat Anjar Suprapto, serta para kelompok tani se-Kecamatan Semparuk.
Ketua Poktan Dare Nandung, Sukiman, mengatakan penerapan PM-AAS memberikan perubahan signifikan terhadap hasil pertanian. Jika sebelumnya lahan yang dikelolanya hanya mampu menghasilkan sekitar tiga ton padi per hektare, kini produktivitasnya meningkat menjadi sekitar delapan hingga sepuluh ton per hektare.
Tak hanya meningkatkan hasil panen, metode tersebut juga dinilai mampu menghemat biaya produksi. Sukiman menyebut petani dapat menghemat sekitar Rp3 juta per hektare karena benih langsung ditanam di lahan tanpa melalui proses persemaian.
“Selama kurang lebih 30 tahun bertani padi, model PM-AAS inilah yang saya dan anggota Poktan Dare Nandung rasakan lebih mudah dan efisien,” ujar Sukiman.
Ia mengakui penerapan sistem tersebut pada awalnya tidak mudah. Saat pertama kali mendapat informasi mengenai PM-AAS, sebagian anggota kelompok tani masih ragu. Kekhawatiran muncul karena benih yang ditanam langsung dikhawatirkan mengapung, dimakan burung, maupun tidak tumbuh dengan baik.
Namun, keraguan itu perlahan terjawab. Setelah sekitar 15 hari, pertumbuhan tanaman padi mulai menunjukkan hasil yang baik dan membuat para petani semakin yakin terhadap metode tersebut.
“Awalnya pada 18 Mei kami coba Tanam Benih Langsung atau Tabela. Semua anggota Poktan khawatir, apakah benihnya nanti mengapung, dimakan burung atau lainnya. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai tumbuh dan akhirnya bisa dipanen,” katanya.
Sukiman berharap pemerintah terus memberikan dukungan terhadap pengembangan pertanian di wilayah tersebut, terutama pembangunan sistem irigasi yang terintegrasi. Selama ini, petani memanfaatkan air sungai saat pasang untuk membantu mengairi lahan yang sebagian masih bergantung pada kondisi air pasang surut.
Selain irigasi, ia juga mengharapkan bantuan mesin penggiling padi premium atau color sorter. Menurutnya, fasilitas tersebut diperlukan agar kualitas beras produksi petani Sambas dapat meningkat sehingga memiliki peluang untuk menembus pasar, termasuk Malaysia.
Sementara itu, Kepala BRMP Kalimantan Barat Anjar Suprapto menjelaskan bahwa program PM-AAS di Kalimantan Barat memiliki sasaran sekitar 15 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Sambas mendapatkan alokasi sekitar 6.000 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah.
Untuk tahap penerapan di Kabupaten Sambas, di antaranya terdapat 30 hektare di Semparuk, 20 hektare di Serindang, 20 hektare di Gersik, 30 hektare di Surabaya, serta kawasan Tebas Sungai Kelambu.
Anjar mengatakan program tersebut secara bertahap diarahkan untuk meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 10 ton per hektare. Target itu dinilai cukup besar mengingat produktivitas padi di Kalimantan Barat saat ini rata-rata masih sekitar dua hingga tiga ton per hektare, sedangkan Kabupaten Sambas berkisar tiga hingga empat ton per hektare.
“Alhamdulillah hasil ubinan ini kami mencatat menghasilkan 8,15 ton per hektare. Saat ini di lahan Semparuk juga masih ada tanaman yang hijau atau belum siap panen,” jelas Anjar.
Bupati Sambas H Satono mengapresiasi keberanian dan inovasi yang dilakukan Sukiman bersama anggota Kelompok Tani Dare Nandung. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi modern dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Sambas.
Satono bahkan mengusulkan agar Sukiman mendapatkan penghargaan sebagai salah satu tokoh pertanian Kabupaten Sambas atas inovasi yang telah dilakukan, termasuk dalam penerapan sistem pengairan untuk mendukung lahan pertanian.
“Saya mengapresiasi Pak Sukiman. Patut mendapatkan award karena telah melakukan inovasi di bidang pertanian, termasuk penerapan sistem irigasi,” kata Satono.
Ia berharap penerapan PM-AAS dapat terus dikembangkan di Kabupaten Sambas sehingga teknologi modern tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan kesejahteraan para petani.
- Penulis: Ainu
