“Nelayan Jawai Keluhkan Kuota Solar Subsidi Terbatas, Aktivitas Melaut Terganggu
- account_circle Ainu
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Nelayan di Desa SB Kuala, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Keterbatasan pasokan tersebut dinilai menghambat aktivitas melaut dan berdampak langsung pada menurunnya pendapatan para nelayan.
Salah seorang nelayan, Rolidi, mengatakan kebutuhan solar untuk melaut dalam satu pekan berkisar antara 30 hingga 40 liter. Namun, dari salah satu SPBU di Kecamatan Jawai, ia hanya dapat memperoleh sekitar 18 liter solar bersubsidi setiap minggu.
Menurutnya, jumlah tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional saat melaut.
“Dalam seminggu saya biasanya hanya dapat sekitar 18 liter solar, padahal kebutuhan untuk melaut bisa mencapai 30 sampai 40 liter. Jadi jelas tidak mencukupi,” ujar Rolidi.
Ia menuturkan, ketika stok solar bersubsidi habis, dirinya terpaksa menghentikan aktivitas melaut atau membeli solar eceran dengan harga yang jauh lebih mahal.
“Kalau solar habis, saya terpaksa tidak melaut. Kalaupun tetap melaut, biasanya beli solar eceran. Tapi solar eceran juga kadang susah didapat, harganya sekitar Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per liter,” katanya.
Rolidi menambahkan, tingginya harga solar eceran membuat biaya operasional semakin membengkak sehingga hasil tangkapan yang diperoleh tidak lagi sebanding dengan pengeluaran.
“Kalau terus beli solar eceran, hasil melaut kadang tidak cukup untuk menutup biaya. Kami berharap pemerintah bisa menambah kuota solar bersubsidi agar kebutuhan nelayan selama satu minggu bisa terpenuhi,” harapnya.
Keluhan serupa disampaikan nelayan lainnya, Bustani. Ia mengaku membutuhkan sekitar 4 hingga 5 liter solar setiap hari untuk melaut. Namun, di SPBU dirinya hanya dapat membeli solar bersubsidi senilai sekitar Rp100 ribu dalam satu minggu.
“Dalam sehari saya butuh sekitar 4 sampai 5 liter solar. Tapi di SPBU hanya bisa beli sekitar Rp100 ribu untuk satu minggu. Jumlah itu jelas tidak cukup,” ungkap Bustani.
Akibat keterbatasan pasokan tersebut, Bustani mengaku hanya dapat melaut sekitar empat hari dalam sepekan. Setelah solar habis, ia tidak memiliki pilihan selain menghentikan aktivitas melaut karena solar eceran juga kerap sulit diperoleh.
“Kalau solar sudah habis, saya tidak bisa melaut lagi. Solar eceran pun kadang tidak ada. Padahal melaut ini pekerjaan kami untuk menghidupi keluarga,” tuturnya.
Para nelayan berharap pemerintah bersama instansi terkait dapat mengevaluasi distribusi serta menambah kuota solar bersubsidi bagi nelayan kecil di Kecamatan Jawai.
Mereka menilai ketersediaan BBM bersubsidi merupakan kebutuhan utama agar aktivitas melaut dapat berjalan lancar dan penghasilan nelayan tetap terjaga.
- Penulis: Ainu
