Manfaatkan Limbah Tahu, Petani di Semparuk Kembangkan Budidaya Cabai Organik
- account_circle Ainu
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Pengolahan lahan untuk budidaya cabai di Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas. (ISTIMEWA)
Seputar Kalbar (SAMBAS) – Di tengah ancaman El Nino dan keterbatasan air yang dihadapi petani, Kelompok Tani Dare Nandung, Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, mencoba inovasi dalam budidaya tanaman cabai dengan memanfaatkan limbah produksi tahu sebagai pupuk organik.
Ketua Kelompok Tani Dare Nandung Semparuk, Sukiman, mengatakan inovasi tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas tanaman cabai agar dapat bertahan lebih lama sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Menurutnya, komoditas hortikultura, khususnya cabai, menjadi salah satu tanaman yang cukup terdampak ketika terjadi kondisi El Nino. Keterbatasan air membuat sebagian petani khawatir untuk menanam cabai.
“Kami mencoba membuat desain budidaya cabai agar tidak hanya berumur empat atau enam bulan, tetapi bisa terus berproduksi sepanjang tahun,” ujar Sukiman.
Ia menjelaskan, limbah rumah tangga dari produksi tahu dimanfaatkan untuk penyiraman sekaligus pemupukan tanaman. Limbah tersebut terlebih dahulu dimanfaatkan melalui proses pengolahan atau fermentasi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk organik.
“Selama El Nino, petani banyak yang takut menanam cabai karena keterbatasan air. Kami justru memanfaatkan limbah produksi tahu untuk penyiraman dan pemupukan,” jelasnya.
Sukiman meyakini penggunaan bahan organik dapat membantu memperpanjang masa produktif tanaman cabai. Bahkan, ia menyebut tanaman cabai yang dikelola dengan metode tersebut berpotensi bertahan hingga beberapa tahun.
“Karena menggunakan organik, kami berharap tanaman cabai bisa berumur panjang dan produksinya lebih stabil. Dengan begitu, pasokan cabai tidak terlalu mengalami naik turun,” katanya.
Ia juga mendorong masyarakat agar tidak memandang limbah rumah tangga maupun limbah makanan sebagai sesuatu yang tidak berguna. Menurutnya, limbah tersebut masih memiliki nilai jika dikelola dengan tepat dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.
“Limbah rumah tangga maupun limbah makanan jangan langsung dibuang. Kalau dikelola dan difermentasi dengan baik, bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman,” ungkapnya.
Inovasi tersebut, lanjut Sukiman, masih dalam tahap pengembangan dan pengamatan. Pihaknya ingin memastikan kandungan serta efektivitas limbah yang digunakan sebelum mendorong masyarakat untuk menerapkannya secara lebih luas.
Ia berharap pemanfaatan limbah organik ini nantinya dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat, khususnya dalam mengatasi persoalan limbah sekaligus membantu meningkatkan produktivitas pertanian.
“Selama ini limbah menjadi persoalan karena menimbulkan bau dan mengganggu lingkungan. Dan ini saya mencoba mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, salah satunya untuk pupuk tanaman cabai,” pungkasnya.
- Penulis: Ainu
