Breaking News
light_mode
Beranda » KALBAR » Gandeng MPA dan BPBD, PT PANP–PT SAM Perkuat Langkah Antisipasi Karhutla di Sambas

Gandeng MPA dan BPBD, PT PANP–PT SAM Perkuat Langkah Antisipasi Karhutla di Sambas

  • account_circle Ainu
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sambas terus diperkuat. PT Perkebunan Anak Negeri Pasaman 1–Sambas (PT PANP) bersama PT Sentosa Asih Makmur (PT SAM) meningkatkan kesiapsiagaan melalui apel siaga, bimbingan teknis (Bimtek) tanggap darurat, hingga pelatihan bagi personel pemadam kebakaran perusahaan dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

Kegiatan yang diinisiasi bersama BPBD Kabupaten Sambas tersebut berlangsung selama dua hari, 1–2 September 2026, di Estate PT PANP. Sebanyak 60 peserta mengikuti kegiatan, terdiri atas 35 personel pemadam kebakaran perusahaan dan 25 anggota MPA.

Rangkaian kegiatan diawali apel siaga dan inspeksi pasukan yang melibatkan sejumlah unsur, di antaranya TNI, BPBD Kabupaten Sambas, Muspika dan Forkopimcam. Pada hari pertama, kegiatan turut dihadiri tamu kehormatan dari Sesko TNI, sedangkan pada hari kedua hadir perwakilan Marinir Mabes TNI.

Estate Manager PT PANP, Daniel Simanjuntak, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.

“Kita ingin memastikan seluruh personel memiliki kesiapan, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana. Pencegahan harus dilakukan sejak awal, jangan menunggu sampai api sudah membesar,” ujar Daniel.

Menurut Daniel, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi dan sinergi antara perusahaan, pemerintah, aparat keamanan serta masyarakat.

“Karhutla ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, sinergi dengan BPBD, TNI, pemerintah kecamatan, desa dan masyarakat sangat penting,” katanya.

Ia menambahkan, perusahaan terus melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari pemantauan kondisi lapangan hingga memastikan kesiapan personel dan peralatan pemadam.

“Kami terus melakukan patroli dan monitoring. Ketika ada indikasi titik api, kita harus bisa merespons dengan cepat sehingga api tidak berkembang dan meluas,” ungkapnya.

Sementara itu, Sustainability Staff PT PANP dan PT SAM, Sandi Kurniawan, menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan sejumlah strategi pengelolaan karhutla, khususnya pada wilayah gambut.

“Kami melakukan pengelolaan area gambut dan water management secara terintegrasi. Ini salah satu langkah penting untuk menjaga kondisi lahan agar tetap terkendali, terutama pada musim kemarau,” jelas Sandi.

Selain pengelolaan lahan, perusahaan juga menerapkan sistem monitoring hotspot dan patroli rutin yang dilakukan tim pemadam.

“Kami melakukan monitoring hotspot dan patroli secara rutin. Sarana, prasarana dan peralatan pemadam juga kami siagakan untuk menghadapi kondisi darurat,” katanya.

Sandi menegaskan, kesiapan personel menjadi faktor penting karena kecepatan respons sangat menentukan ketika terjadi kebakaran.

“Tidak cukup hanya memiliki peralatan. Personelnya juga harus terlatih, memahami prosedur dan mampu bekerja sama dengan pihak lain ketika berada di lapangan,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengikuti Bimtek tanggap darurat dan simulasi penanganan karhutla. Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan personel pemadam perusahaan dan MPA dalam menghadapi kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.

Dari BPBD Kabupaten Sambas, Yoelijanto menyambut baik langkah proaktif yang dilakukan PT PANP dan PT SAM.

“Kami menyambut baik langkah proaktif yang dilakukan oleh PT PANP dan PT SAM. Pengelolaan water management dan kesiapan sarana-prasarana yang ditampilkan sudah sangat memadai,” ujar Yoelijanto.

Menurutnya, Bimtek dan simulasi penting untuk memastikan setiap personel memahami tugas serta perannya ketika terjadi keadaan darurat.

“Bimtek dan simulasi ini penting agar koordinasi antara personel pemadam perusahaan, MPA dan BPBD di lapangan bisa berjalan cepat dan terukur saat terjadi keadaan darurat,” katanya.

Ia berharap sinergi yang telah terbangun tidak hanya dilakukan saat kebakaran terjadi, tetapi juga diperkuat dalam upaya pencegahan.

“Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana kita mencegah api itu muncul. Ketika sudah terjadi kebakaran, tentu penanganannya membutuhkan waktu, tenaga dan sumber daya yang lebih besar,” ungkapnya.

Sementara itu, Ghafar Satyagraha dari Forkopimcam Sejangkung menilai keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut menjadi langkah penting dalam menghadapi ancaman karhutla.

“Sinergi seperti inilah yang kita butuhkan. Pencegahan karhutla tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah atau TNI-Polri saja,” ujar Ghafar.

Menurutnya, perusahaan memiliki peran penting karena berada dekat dengan masyarakat dan wilayah yang berpotensi terdampak karhutla.

“Komitmen perusahaan yang juga melibatkan masyarakat desa binaan melalui edukasi dan penyediaan sarana pencegahan adalah langkah konkret dalam menjaga wilayah kita tetap aman dari ancaman asap,” katanya.

Ghafar berharap masyarakat ikut mengambil peran dalam mencegah terjadinya kebakaran, terutama dengan meninggalkan praktik pembukaan lahan menggunakan api.

“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Jangan sampai kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar justru menimbulkan kebakaran yang tidak terkendali,” tegasnya.

Apresiasi juga disampaikan Camat Galing, Hendrayani. Ia menilai langkah PT PANP dan PT SAM menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengantisipasi karhutla.

“Kami memberikan apresiasi kepada perusahaan, terutama PT PANP dan PT SAM, yang mengambil berat terkait karhutla,” ujar Hendrayani.

Menurutnya, kesiapsiagaan yang dilakukan perusahaan merupakan langkah positif karena tidak hanya berorientasi pada penanganan kebakaran, tetapi juga mengedepankan pencegahan.

“Yang kami lihat bukan hanya penanganannya, tetapi lebih kepada tindakan antisipasi dan kesiapsiagaan. Ini sangat penting dalam menjaga wilayah yang menjadi tanggung jawab perusahaan,” katanya.

Dalam Bimtek tersebut, peserta juga didorong untuk ikut menyampaikan edukasi kepada masyarakat agar meninggalkan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar atau no burning.

Edukasi tersebut dinilai penting untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai pembukaan lahan. Pembakaran lahan tidak boleh menjadi pilihan karena berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama saat musim kemarau.

Dalam penanganan karhutla, pihak perusahaan juga memiliki tanggung jawab terhadap wilayah dalam radius hingga 5 kilometer dari IUP atau batas perizinan perusahaan. Apabila ditemukan titik api dalam radius tersebut, perusahaan bertanggung jawab melakukan upaya pemadaman hingga api berhasil ditangani.

Selain pelatihan dan simulasi, kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama pencegahan karhutla. Komitmen tersebut melibatkan Forkopimcam Sejangkung dan Galing, Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD Kabupaten Sambas, koperasi plasma mitra perusahaan, supplier TBS, serta MPA dari lima desa wilayah binaan, yakni Desa Sijang, Sungai Palah, Galing, Senujuh dan Semanga.

Perusahaan juga menyerahkan banner imbauan pencegahan karhutla kepada desa-desa binaan untuk dipasang di kantor desa sebagai bagian dari kampanye pencegahan kebakaran.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) PT PANP serta simulasi tanggap darurat penanganan karhutla oleh tim pemadam kebakaran perusahaan.

Melalui kegiatan tersebut, PT PANP dan PT SAM berharap kesiapsiagaan seluruh unsur semakin kuat. Dengan sinergi antara perusahaan, pemerintah, aparat dan masyarakat, potensi karhutla diharapkan dapat dicegah sejak dini, sementara jika kebakaran terjadi, penanganannya dapat dilakukan secara cepat, tepat dan terkoordinasi.

  • Penulis: Ainu
expand_less