Breaking News
light_mode
Beranda » KALBAR » Menjaga Gambut, Menjaga Kehidupan: Kolaborasi Desa dan Perusahaan Cegah Karhutla di Galing

Menjaga Gambut, Menjaga Kehidupan: Kolaborasi Desa dan Perusahaan Cegah Karhutla di Galing

  • account_circle Ainu
  • calendar_month 55 menit yang lalu
  • comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Musim kemarau selalu membawa kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat di wilayah yang memiliki kawasan gambut. Ketika lahan mulai mengering dan kabut asap kembali muncul di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.

Di Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, langkah pencegahan itu terus diperkuat melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat.

Salah satunya melalui program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) yang digagas bersama PT Perkebunan Anak Negeri Pasaman (PT PANP) dan PT Sentosa Asih Makmur (PT SAM).

Suasana sosialisasi program tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Ratu Sepudak, Kamis (28/8/2026) pagi. Sejumlah unsur hadir, mulai dari jajaran manajemen PT PANP dan PT SAM, Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Pontianak, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kabupaten Sambas, TNI/Polri, Pemerintah Kecamatan Galing, pemerintah desa, Satgas Desa, tokoh masyarakat, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga unsur terkait lainnya.

Namun, kegiatan itu bukan sekadar pertemuan formal. Ada pesan yang lebih besar yang ingin dibangun, yakni bagaimana masyarakat dapat memahami karakter lahan yang mereka tinggali sekaligus mengambil peran dalam mencegah api sebelum berubah menjadi bencana.

Sekretaris Kecamatan Galing, Permadi, menilai keterlibatan perusahaan dalam program DMPG merupakan langkah positif. Menurutnya, pencegahan karhutla membutuhkan gerakan bersama, terlebih dampak kebakaran tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.

“Kami dari pihak kecamatan sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh PT PANP dan PT SAM melalui program DMPG ini. Upaya seperti ini sangat positif dalam percepatan penanganan karhutla,” ujar Permadi.

Kabut asap yang ditimbulkan karhutla, kata dia, dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, salah satunya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Karena itu, menurut Permadi, kepedulian perusahaan yang hadir di tengah masyarakat juga memiliki arti penting. Tidak hanya dalam upaya pencegahan kebakaran, tetapi juga melalui kegiatan sosial, termasuk pemeriksaan kesehatan gratis yang memberikan manfaat secara langsung kepada warga.

Memahami Gambut Sebelum Api Datang

Di balik persoalan karhutla, ada satu hal yang sering kali luput dari perhatian: karakter tanah yang dibakar.

Safari dari Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Pontianak menjelaskan bahwa Kabupaten Sambas memiliki kawasan gambut yang membutuhkan perhatian khusus.

Lahan gambut bukan sekadar tanah biasa. Ketika kering dan terbakar, api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan. Inilah yang membuat kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit dikendalikan.

Karena itu, pemahaman masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Safari juga menyoroti masih adanya kesalahpahaman mengenai praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, termasuk pemahaman masyarakat mengenai kearifan lokal dan batasan aturan yang berlaku.

“Harapannya melalui kegiatan ini dapat mengubah pola pikir masyarakat. Masih ada masyarakat yang menggunakan cara membakar dalam membuka lahan, sehingga perlu diberikan pemahaman mengenai aturan dan perbedaan antara lahan gambut dengan tanah mineral,” harapnya.

Ia mengingatkan, ketika api masuk ke lahan gambut, persoalannya bisa menjadi jauh lebih kompleks.

“Kalau lahan gambut terbakar, penanganannya tidak mudah karena api bisa menyebar di bawah permukaan. Karena itu, pencegahan harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting karena karhutla bukan hanya persoalan ketika asap sudah terlihat atau api sudah membesar. Justru, keberhasilan penanganan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pencegahan dilakukan sejak awal.

Dari Desa, Kesadaran Itu Dibangun

Program DMPG diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi. Program ini diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat di tingkat desa agar pencegahan karhutla menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Safari menegaskan, pemerintah maupun perusahaan tidak mungkin bekerja sendirian.

“Masalah karhutla menjadi tugas kita semua. Perusahaan juga memiliki kewajiban untuk ikut melakukan pencegahan dan penanganan, dan itu sudah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan,” tambahnya.

Semangat kolaborasi tersebut juga mendapat dukungan dari Dinas Perkim LH Kabupaten Sambas.

Perwakilan Dinas Perkim LH, Surianto, mengapresiasi kerja sama yang telah dibangun PT PANP dan PT SAM bersama masyarakat. Ia berharap sinergi tersebut terus diperkuat, terutama dalam menjaga lingkungan dan mencegah karhutla.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak perusahaan yang sudah bekerja sama dengan masyarakat. Sinergi seperti ini sangat penting dalam upaya pencegahan karhutla,” ujar Surianto.

Mencegah Sebelum Api Membesar

Bagi PT PANP dan PT SAM, program DMPG menjadi salah satu bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat pencegahan karhutla di wilayah operasional dan sekitarnya.

Asisten Social Security License (SSL) PT PANP dan PT SAM, H Abdul Rahman, mengatakan kegiatan sosialisasi di Kecamatan Galing merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan di Kecamatan Sejangkung.

“Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di Kecamatan Galing dan sebelumnya juga sudah dilaksanakan di Kecamatan Sejangkung. Ini merupakan bentuk upaya kami dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kecamatan Galing,” kata Abdul Rahman.

Bagi perusahaan, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan saat api sudah muncul. Edukasi, kesiapsiagaan dan keterlibatan masyarakat harus dibangun jauh sebelum kebakaran terjadi.

Melalui DMPG, perusahaan berharap tercipta pemahaman yang sama antara masyarakat, pemerintah, aparat dan perusahaan. Masing-masing memiliki peran, tetapi tujuan akhirnya sama: menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat dari dampak karhutla.

“Dengan adanya kolaborasi tersebut, upaya pencegahan karhutla diharapkan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kesiapsiagaan di tingkat desa,” pungkasnya.

Di tengah ancaman musim kering dan kabut asap, upaya seperti ini menjadi pengingat bahwa melawan karhutla bukan semata-mata tentang memadamkan api.

Jauh lebih penting adalah memastikan api tidak pernah memiliki kesempatan untuk membesar.

Dari desa, dari masyarakat, dari perusahaan dan pemerintah, pencegahan itu dimulai. Karena ketika gambut tetap terjaga, bukan hanya hutan yang diselamatkan, tetapi juga udara, kesehatan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

  • Penulis: Ainu
expand_less