Breaking News
light_mode
Beranda » KALBAR » Isak Tangis Pecah Saat Rizki Ditemukan Meninggal Dunia di Sungai Desa Saing Rambi

Isak Tangis Pecah Saat Rizki Ditemukan Meninggal Dunia di Sungai Desa Saing Rambi

  • account_circle Ainu
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

Seputar Kalbar (SAMBAS) – Sore itu, langit di atas Sungai Sambas Kecil tampak redup. Awan kelabu menggantung rendah, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti Desa Saing Rambi, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Selasa (28/04/2026).

Angin berhembus pelan, membawa suasana hening yang terasa berat. Di tepian sungai, sejumlah warga berkumpul. Sebagian berdiri menatap aliran air yang tenang, sebagian lain menundukkan kepala dalam doa.

Semua menunggu satu hal yang sama, kabar tentang Rizki (23), pemuda desa yang hilang sejak dua hari sebelumnya.

Di antara kerumunan itu, keluarga korban tampak tak kuasa menyembunyikan kegelisahan.

Sang ibu duduk lemas dengan mata sembab, sesekali mengusap air mata yang terus jatuh. Ayah korban berdiri tak jauh darinya, menatap kosong ke arah sungai, mencoba tegar di tengah kecemasan yang menghimpit. Kerabat lain hanya bisa menenangkan sambil ikut larut dalam tangis.

Penantian panjang itu akhirnya berakhir menjelang petang. Sekitar pukul 17.10 WIB, Tim SAR gabungan bersama warga menemukan Rizki dalam keadaan meninggal dunia, tidak jauh dari lokasi awal korban diduga tenggelam.

Begitu kabar itu terdengar, tangis keluarga langsung pecah. Suara histeris ibu korban menggema di tepian sungai. Beberapa anggota keluarga saling berpelukan, sementara warga yang menyaksikan hanya bisa terdiam penuh haru.

Koordinator Pos SAR Sintete, Zulhijah, membenarkan penemuan tersebut. Ia mengatakan korban ditemukan pada Selasa (28/05/2026) sore setelah dua hari pencarian intensif.

“Pada Selasa sekitar pukul 17.10 WIB korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia tidak jauh dari lokasi korban tenggelam. Tim SAR gabungan langsung mengevakuasi korban, selanjutnya dibawa ke RSUD Sambas menggunakan mobil Basarnas dan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga korban,” ujar Zulhijah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat selama proses pencarian.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur terkait dan masyarakat yang telah membantu pelaksanaan operasi SAR dengan baik dan lancar,” tambahnya.

Sebelumnya, Rizki dilaporkan hilang sejak Minggu malam. Menurut informasi keluarga, pemuda 23 tahun itu meninggalkan rumah pada Minggu (26/04/2026) sekitar pukul 18.30 WIB menggunakan sepeda motor.

Namun hingga keesokan paginya, ia tak kunjung pulang. Keluarga mulai cemas dan berusaha mencari ke sejumlah tempat yang biasa didatangi Rizki.

Kekhawatiran semakin besar ketika pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB, sepeda motor beserta barang milik korban ditemukan berada di jembatan Sungai Sambas Kecil Desa Saing Rambi. Temuan itu membuat warga menduga Rizki tenggelam di sungai tersebut.

“Masyarakat setempat telah melakukan pencarian awal, namun hasilnya masih nihil,” kata Zulhijah.

Mendapat laporan dari pihak keluarga, Tim Rescue Pos SAR Sintete langsung bergerak menuju lokasi dengan membawa Rescue Car, Rubber Boat, perlengkapan evakuasi, alat medis, navigasi, komunikasi, hingga peralatan selam. Operasi pencarian pun segera dimulai.

Sejumlah unsur dilibatkan dalam pencarian itu, di antaranya Basarnas Pontianak, Sat Polairud Polres Sambas, Polsek Sambas, Koramil Sambas, Puskesmas Sambas, warga setempat, pihak keluarga, serta potensi SAR lainnya.

Selama dua hari pencarian, tim gabungan berjibaku menyisir aliran sungai dari pagi hingga petang.

Perahu karet mondar-mandir memecah permukaan air. Personel SAR memeriksa titik demi titik. Bahkan ketika hujan turun membasahi lokasi pencarian, semangat mereka tak surut.

Bahkan, teman-teman Rizki juga ikut membantu mencari. Mereka menyusuri sungai menggunakan sampan dan mengawasi dari atas jembatan. Harapan mereka hanya satu, sahabat mereka bisa segera ditemukan dan pulang dalam keadaan selamat.

Sementara itu, orang tua Rizki bersama keluarga lainnya hanya bisa menunggu dengan hati cemas. Mereka bertahan di sekitar lokasi pencarian sambil menangis dan terus berdoa.

Waktu terasa berjalan lambat bagi keluarga yang diliputi kecemasan. Setiap perahu yang mendekat selalu disambut tatapan penuh harap.

Namun harapan itu berubah menjadi duka saat Rizki ditemukan tak bernyawa.

Setelah dievakuasi, jenazah korban dibawa ke RSUD Sambas untuk penanganan lebih lanjut.

Saat jasad Rizki dibawa menuju RSUD Sambas, kedua orang tuanya, ibu dan ayah korban, serta adik korban turut mendampingi di dalam mobil Basarnas.

Suasana di dalam kendaraan dipenuhi duka mendalam. Tangis keluarga pecah sepanjang perjalanan, sementara mereka berusaha tegar mengiringi kepulangan Rizki untuk terakhir kalinya.

Tak lama kemudian, setibanya di RSUD Sambas, jenazah selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa pulang ke rumah duka.

Di rumah sederhana tempat Rizki dibesarkan, suasana pilu kembali menyelimuti. Warga berdatangan memberikan doa dan dukungan. Tangis keluarga kembali pecah saat ambulans tiba membawa tubuh pemuda yang mereka cintai.

Jika biasanya seorang anak pulang membawa cerita selepas bepergian, kali ini Rizki pulang dalam keheningan.

Kepergian pemuda 23 tahun itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan warga setemat.

Sungai Sambas Kecil yang setiap hari mengalir tenang, sore itu menjadi saksi bahwa tak semua penantian berakhir bahagia.

  • Penulis: Ainu
expand_less