Breaking News
light_mode
Beranda » KALBAR » Mahasiswa Tolak Anggota DPRD Kalbar Berorasi Saat Aksi di Bundaran Digulis

Mahasiswa Tolak Anggota DPRD Kalbar Berorasi Saat Aksi di Bundaran Digulis

  • account_circle Alfarizi
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

Seputar Kalbar (PONTIANAK) – Momen tak biasa terjadi dalam aksi unjuk rasa mahasiswa di Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura, Kamis (18/06/2026).

Anggota DPRD Kalimantan Barat dari Fraksi PAN, Zulfydar Zaidar Mochtar, yang datang ke lokasi aksi justru ditolak mahasiswa untuk berbicara di atas mimbar demonstrasi.

Kehadiran legislator tersebut memicu reaksi dari massa aksi. Mahasiswa menilai kedatangannya terkesan hanya ingin mencari perhatian di tengah demonstrasi yang sedang berlangsung.

Salah seorang orator dari Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Kalbar (Solmadapar), Hajime, secara terbuka meminta peserta aksi tidak memberikan kesempatan kepada anggota dewan tersebut untuk menyampaikan orasi.

“Dewan ini cari panggung. Dulu kami demo di DPRD tidak ada yang nongol. Kita jangan kasih mereka panggung. Kita saja yang berorasi. Biar dewan-dewan ini dengar. Itu pun kalau mereka dengar,” ujar Hajime yang disambut sorakan dan tepuk tangan massa.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mahasiswa terhadap lembaga legislatif yang dinilai kurang responsif terhadap berbagai persoalan yang selama ini mereka suarakan. Menurut mereka, kehadiran anggota DPRD di tengah demonstrasi tidak serta-merta menghapus kesan bahwa wakil rakyat kerap sulit ditemui ketika aspirasi disampaikan melalui jalur resmi.

Meski berada di tengah kerumunan massa, Zulfydar tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato maupun tanggapan atas tuntutan yang disuarakan mahasiswa. Aksi tetap berlangsung sesuai agenda yang telah disusun para peserta.

Dalam orasi yang sama, mahasiswa juga mengingatkan bahwa anggota dewan merupakan wakil rakyat yang seharusnya lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan politik.

“Di situ sudah jelas, atasan bapak-bapak itu rakyat, bukan partai,” tegas Hajime.

Aksi di Bundaran Digulis diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan di Kalimantan Barat. Mereka membawa sejumlah tuntutan, di antaranya terkait tingginya harga kebutuhan pokok, kondisi ekonomi masyarakat, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kritik terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Penolakan terhadap Zulfydar menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian selama aksi berlangsung. Bagi para demonstran, yang dibutuhkan bukan sekadar kehadiran simbolis di tengah kerumunan massa, melainkan keberanian memperjuangkan aspirasi rakyat melalui fungsi legislasi dan pengambilan kebijakan.

  • Penulis: Alfarizi
expand_less